Selasa, 13 Maret 2012

Puisi Chairil Anwar


KARAWANG BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
Chairil Anwar (1948)
Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957


Lukisan yang belum sempurna
Bilaku genggam pena hidupku,
Bila ku hampar lembaran putihku,
Inginku lukis satu persatu,
Wajah tersenyum hati berlagu,
Warna-warni mengalir laju,
Berlumba-lumba mengisi sempadan,
Bak air turun tatkala hujan,
Terselit pelangi di celah sinaran.
Bila saja pena melayang,
Bila putih terus menghilang,
Hanya warna mengisi ruang,
Baruku sedar banyak yang kurang,
Tidak seperti apa dirancang,
Tidak seperti apa dipandang,
Warna dipinta hitam yang datang,
Terasa ingin saja lukisanku buang.
Bilaku hampar lembaran yang baru,
Lukisan lama kerap menghantuiku,
Bilaku lukis keindahan alam,
Terasa diriku hampir tenggelam,
Bilaku pilih warna yang riang,
Semua bertukar menjadi arang,
Bilaku koyak lukisan ini,
Terasa hanya menipu diri.
Dimana lagi harusku berdiri,
Agar diri tidak lagi sunyi,
Dimana lagi harusku berlari,
Agar bahgia sering menemani,
Dimana lagi harusku mencari,
Agar kasih tenang di hati.
Tiada lukisan tanpa gambaran,
Tiada soalan tanpa jawapan,
Tiada arah tanpa tujuan,
Selagi hayat dikandung badan,
Akanku tagih sinar harapan,
Agar lukisan ini dapatku sempurnakan.
Bassin (Bahasa, Sastra dan Seni Indonesia). Mencoba menampilkan khasanah Bassin dengan cara pandang yang berbeda. Tersedia konten Naskah Drama Remaja, dan Musik Instrumentalia yang siap Anda download dengan gratis. Sedang bagi tenaga pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia yang membutuhkan Materi Presentasi PowerPoint bisa juga download secara gratis.

Ujian Nasional 2008/2009

23 April 2009

Aliran Sastra

1. ALIRAN ROMANTIK
Dasar pemikiran aliran ini ialah ingin menggambarkan kenyataan hidup dengan penuh keindahan tanpa cela. Jika yang dilukiskan itu kebahagiaan, maka kebahagiaan iyu perlu sempurna tiada tara. Sebaliknya jika yang dilukiskan kesedihan, maka pengarang ingin agar air mata terkuras. Sebab itu aliran romantic sering dikaitkan dengan sifat sentimental atau cengeng.

Dalam puisi moderen, penyair-penyair yang dapat dikategorikan sebagai penyair romantik, misalnya : MUHAMMAD YAMIN, AMIR HAMZAH, JE.TATENGKENG (dari Angkatan Pujangga Baru), RAMADHAN KH. KIRDJOMULJO dan RENDRA (dari periode 1953-1961), TOTO SUDARTO BACHTIAR (Gadis Peminta-minta), KIRDJOMULJO (Romance Perjalanan)

Nyanyi Sunyi dan Buah Rindu, karya Amir Hamzah, pada hakekatnya adalah rekaman kedukaan penyair setelah patah hati dengan kekasihnya, Lilik Sundari.

PRIANGAN SI JELITA
(Chairil Anwar – 1965)

Seruling berkawan pantun,
Tangiskan derita orang priangan,
Selendang merah, merah darah
Menurun di Cikapundung
Bandung, dasar di danau
Lari bertumpuk di bukit-bukit

Seruling menyendiri di tepi-tepi
tangiskan keris hilang di sumur
Melati putih, putih hati
Hilang kekasih dikata gugur

Bandung, dasar di danau
Derita memantul di kulit-kulit

Kumpulan puisi-puisi cinta karya Rendra yang berjudul “Romansa” dan “Kakawin Kawin” juga merupakan jenis aliran Romantik, berisi surat cinta, masa pacaran, dan perkawinan di gereja. Kekaguman kepada Dik Narti yang menjadi seriosa (putrid duyung dengan suara merdu lembut bagai angina laut) digambarkan dengan sangat plastis.




SURAT CINTA

Kutulis surat ini
Kala hujan gerimis
Bangai bunyi tambur mainan
Anak-anak peri dunia yang gaib
Dan angina mendesah
Mengeluh dan mendesah
Wahai, dik Narti!
Aku cinta padamu!

Kutulis surat ini
Kala langit menangis
Dan dua ekor belibis
Bercintaan di dalam kolam
Bagai dua anak nakal
Jenaka dan manis
Mengibaskan ekor
Serta menggetarkan bulu-bulunya
Wahai, dik Narti!
Kupinang kau menjadi istriku!

Kaki-kaki hujan yang runcing
Menyentuh ujungnya di bumi
Kaki-kai cinta yang tegas
Bagai logam berat gemerlapan
Menembus ke muka
Dan tak kan kunjung diundurkan
………………………………..
Engkau adalah putrid duyung
Tawananku
Putri duyung dengan
Suara merdu lembut
Bagai angina laut,
Mendeahlah bagiku!
Angin mendesah
Selalu mendesah
Dengan ratapnya yang merdu

Engkau adalah putrid duyung
Tergolek lemas
Mengejap-ngejapkan matanya yang indah
Dalam jaringku
Wahai, putrid duyung
Aku menjaringmu
Aku melamarmu

Kutulis surat ini
Kala hujan gerimis
Kerna langit
Gadis manja dan manis
Menangis minta mainan
Dua anak lelaki nakal
Bersendau gurau dalam selokan
………………………………….
(Empat Kumpulan Sajak, 1961)

Rendra, dalam “Ballada Orang-orang Tercinta” mengisahkan perampok Atmo Karpo, gadis Anita yang kesepian, orang tua tersia yang bernama Kasan dan Patima, gadis desa malang yang gila karena difitnah yang bernama Sumilah, juga tentang Yesus Kristus. Subagio Sastrowardoyo menyatakan bahwa BOT merupakan saduran dari puisi-puisi Lorca.


2. ALIRAN REALISME
Aliran realisme menggambarkan segala sesuatu secara realistis, apa adanya. Dalam penggambaran secara apa adanya itu, batas-batas kepantasan, tabu, dan hal yang tidak sopan masih diperhatikan. Realitas kehidupan yang tidak pantas digambarkan, yang melanggar tabu, dan yang tidak sopan, tidak ikut digambarkan oleh pengarang.

Sutan Takdir Alisyahbana merupakan tokoh pemula aliran realisme. “Menuju Laut” karya STA, mengajak kita berorientasi lain tentang laut. Kita menghadapi laut yang penuh dinamika. Laut dengan gelombang menderai tidak bias dikatakan sebagai laut yang tenang tiada berombak.

Penyair Angkatan 45 yang beraliran Realisme : Asrul Sani, Rivai Apin, Sitor Situmorang, Subagio Sastrowardojo, Chairil Anwar.

DOA
(Kepada Pemeluk Teguh)

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMU

Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelas sunyi

Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk

Tuhanku
Aku menggembara di negeri asing

Tuhanku
Di pintuMu aku mengetuk
Aku tidak bias berpaling

/kerdip lilin di kelam sunyi/ sesuatu yang sangat berarti
/aku mengembara di negeri asing/ pengakuan sang penyair akan dosa-dosanya, sehingga ia menjadi orang asing bagi dirinya sendiri.
/dipintuMu aku mengetuk, aku tidak bias berpaling/ tekad penyair yang menyadari bahwa jalan Tuhanlah yang menjadi pilihannya, ia tidak akan berpaling lagi, apa pun yang terjadi

I S A
(Kepada Nasrani Sejati)

Itu tubuh
Mengucur darah
Mengucur darah

Rubuh
Patah
Mendampat Tanya : aku salah?

Kulihat Tubuh mengucur darah
Aku berkaca dalam darah

Terbayang terang di mata masa
Bertukar rupa ini segera

Mengatup luka

Itu tubuh
Mengucur darah
Mengucur darah

(12 November 1943, Chairil Anwar)


3. ALIRAN REALISME SOSIAL
Kenyataan yang digambarkan aliran realisme social adalah kenyataan yang dialami oleh golongan masyarakat yang menderita, yakni buruh dan tani. Penggambaran kenyataan itu dimaksudkan untuk membangkitkan pertentangan kelas, yakni bangkitnya kaum buruh dan tani untuk melawan apa yang oleh golongan komunis sebagai kaum borjuis atau kapitalis. Yang dipentingkan dalam realisme social ialah kenyataan hidup masyarakat golongan revolusioner, suatu golongan yang berpihak pada buruh dan tani.
Aliran realisme social mengalami perkembangan pesat antara tahun 1962 sampai tahun 1965, yakni di saat LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) sangat berkuasa dalam bidang kebudayaan dan kesenian di Indonesia.

Kawan Separtai Bekerja

Kau massa pekerja Indonesia
Kau mati di laut menangkap ikan
Kau mati menebang kayu di tengah hutan
Kau mati di tambang-tambang
Kau mati di pabrik digilas mesin
Kau mati menyadap karet
Kau mati mengangkut beban
Kau mati di lading-ladang
Kau mati di kolong jembatan
Kau mati lapar di tepi pasir
Di mana saja kau mati sebagai kuli
Di mana saja kau mati terkapar menambah lapar
Di setiap tapak tanah peluh dan darah
Kau curahkan sebagai pahlawan.

Hr.Bandaharo, 1964.


Kemis Pagi

Hari ini kita tangkap tangan-tangan Kebatilan
Yang selama ini mengenakan seragam kebesaran
Dan menaiki kereta-kereta kencana
Dan menggunakan meterai kerajaan
Dengan suara lantang memperatasnamakan
Kawula dukana yang berpuluh juta

Hari ini kita serahkan mereka
Untuk digantung di tiang Keadilan
Penyebar bias fitnah dan dusta durjana
Bertahun-tahun lamanya

Mereka yang merencanakan seratus mahligai raksasa
Membeli benda-benda tanpa harga di manca Negara
Dan memperoleh uang emas beratus juta
Bagi diri sendiri, di bank-bank luar negeri
Merekalah pengatur jina secara terbuka
Dan menistakan kehormatan wanita, kaum dari ibu kita;

Hari ini kita tangkap tangan-tangan kebatilan
Kebanyakan anak-anak muda berumur belasan
Telah kita naiki gedung-gedung itu
Mereka semua pucat, tiada lagi berdaya
Seorang ketika digiring, tersedu
Membuka sendiri tanda kebesaran di pundaknya
Dan berjalan perlahan dengan lemahnya

Taufik Ismail. 1966


4. ALIRAN EKSPRESIONISME
Penyair ekspresionisme tidak mengungkapkan kenyataan secara objektif, namun secara subjektif. Yang diekspresikan adalah gelora kalbunya, kehendak batinnya. Puisinya benar-benar ekspresi jiwa, creation, bukan mimesis.
Sajak ekspresionistis tidak menggambarkan alam atau kenyataan, juga bukan penggambaran kesan terhadap alam atau kenyataan, tetapi cetusan langsung dari jiwa. Cetusan itu dapat bersifat mendarah daging, seperti sajak “Aku” karya Chairil Anwar.

Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bias kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Chairil Anwar. 1946.


Surat dari Ibu

Pergi ke dunia luas, anakku saying
Pergi ke hidup bebas!
Selama angina masih angina buritan
Dan matahari pagi menyinar daun-daun
Dalam rimba dan padang hijau

Pergi ke laut lepas, anakku saying
Pergi kea lam bebas!
Selama hari belum petang
Dan warna senja belum kemerah-merahan
Menutup pintu waktu lampau

Jika baying telah pudar
Dan elang laut pulang ke sarang
Angina bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
Dan nahkoda sudah tahu pedoman
Boleh engkau datang padaku!

Kembali pulang, anakku saying
Kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah merapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari”

Asrul Sani. 1951

Dengan sangat bijaksana, Asrul Sani memberikan teladan bagi ibu-ibu agar memberikan kebebasan kepada putra-putrinya untuk mencari pengalaman seluas-luasnya, pergi ke dunia luas, ke laut lepas, kea lam bebas, selagi mereka masih muda. Dan membiarkan anak mereka tidak pulang sebelum mereka sukses dalam pengembaraannya.

5. ALIRAN IMPRESIONISME
Impresionisme merupakan perkembangan dari realisme. Kenyataan dalam impresionisme menimbulkan kesa-kesan dalam diri penyair. Apa yang dikemukakan dalam sajak adalah kesan-kesan dalam diri penyair setelah menghayati kenyataan hidup itu. Adapun objek kenyataan itu dapat berupa manusia, peristiwa, benda dan sebagainya.

Contoh sajak yang bersifat impresionisme : “CANDI MENDUT” SYIWA NATARAJA”, “TERATAI” (Sanusi Pane. “CILIWUNG YANG MANIS”, “RUMAH DI BELAKANG RUMAH TUAN SURYO”, (Rendra). “SARANGAN”, “TAWANGMANGU”, “MADURA’ (Abdul Hadi W.M.). “BUNGLON”, “MADRASAH MUHAMMADIYAH” (Mahatmanto)

Perempuan-perempuan Perkasa

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta
Dari manakah mereka

Ke stasiun kereta mereka dating dari bukit-bukit desa
Sebelum peluit kereta pagi terjaga
Sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta
Ke manakah mereka
Mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbang kota
Mereka hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta
Siapakah mereka
Akar-akar melata dari tanah perbukitan turun ke kota
Mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

Hartoyo Andangjaya. 1963.

Puisi tersebut menceritakan tentang perempuan-perempuan yang berjuang keras untuk menyambung hidup dengan jalan berdagang hasil bumi dari Walikukun ke Solo menjelang pukul 4 pagi mereka sudah menunggu kereta pagi Madiun-Solo untuk menjual hasil dagangannya, dan mereka baru pulang di sore hari.

Teratai
Kepada Ki Hajar Dewantara

Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai

Tiada terlihat orang yang lalu

Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun berseri, Laksmi mengarang
Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia

Teruslah, o, Teratai bahagia
Berseri di kebun Indonesia
Biarkan sedikit penjaga taman

Biarpun engkau tidak dilihat
Biarpun engkau tidak diminat
Engkau turut menjaga jaman

Sanusi Pane. 1957.


6. ALIRAN IMAJIS
Menurut kaum imajis, kenyataan harus dilukiskan dalam imaji visual yang jernih dan jelas. Kata-kata dipilih secara cermat dan efisien. . Bahasa yang dipilih adalah bahasa sehari-hari dengan ritme yang tidak mengikat. Di samping mengungkapkan gagasan penyair, kata-kata itu mendukung imaji penyair yang hendak diungkapkan. Puisi kaum i8majis sering mirip prosa.
Tokoh Imaji : Sapardi Djoko Damono (Kumpulan puisi DUKAMU ABADI, MATA PISAU, PERAHU KERTAS. Tokoh muda yang lain : Adri Darmadji, BY. Tand, Beni Setia, Hetu Emka.

Peristiwa Pagi Tadi

Pagi tadi seorang sopir oplet becerita kepada tukang warung
Tentang lelaki yang terlanggar motor waktu menyeberang

Siang tadi pesuruh kantor bercerita kepada tukang warung tentang
Sahabutmu yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur
Aspal, lalu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan

Sore tadi tukang warung bercerita kepadamu tentang aku yang
Terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, lalu
Diangkat beramai-ramai ke tepi jalan dan menunggu setengah jam
Sebelum dijemput ambulans dan meninggal sesampai di rumah sakit.

Malam ini kau ingin sekali bercerita padaku tentang peristiwa itu.

Sapardi Djoko Damono. 1983

Dalam beberapa karyanya, Rendra juga mampu menjadi imaji : “BALADA TERBUNUHNYA ATMO KARPO”, “BALADA SUMILAH”, “BALADA ANITA”, “ADA TILGRAM TIBA SENJA”, “KAKAWIN KAWIN”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar